๐ Asbabun Nuzul Surat Al Mursalat
AsbabunNuzul. Kategori: Istilah Umum. Sebab-sebab atau peristiwa yang menyebabkan ayat al-Quran diturunkan pada zaman Rasulullah ๏ทบ Mengetahui sebab ayat itu diturunkan adalah penting untuk menentukan sesuatu hukum. Waris-waris yang mempunyai bahagian tetap dalam ashabul menerima harta pusaka si mati.
AlQur'an ( ejaan KBBI: al Quran, dalam bahasa Arab ููุฑูุขู) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam mempercayai bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril . Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur'an
IbnuAbbas menjawab, "Ucapan itu pertama kali berasal dari Nabi saw. lalu Allah menurunkannya (kata-kata yang sama)." 512. Shahih Bukhari, kitab at-Tafsiir, hadits nomor 4929. Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 607 - 608.
07Asbabun-Nuzul-Surat-Al-Araaf. 10-Asbabun-Nuzul-Surat-Yunus. 11-Asbabun-Nuzul-Surat-Huud. 12-Asbabun-Nuzul-Surat-Yusuf. 13-Asbabun-Nuzul-Surat-ar-Rad. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mursalat. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muthoffifin. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil. Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qaari'ah.
Suratyang ke-77 di dalam Al Qur'an dan terdiri dari 50 ayat. Baca juga surat Al Mursalaat teks Arab, terjemah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Al Mursalaat - ุงูู
ุฑุณูุงุช 1. waalmursalaati 'urfaan 2. faal'aasifaati 'ashfaan 3. waalnnaasyiraati nasyraan 4. faalfaariqaati farqaan 5. faalmulqiyaati dzikraan 6. 'udzran aw nudzran
Imaman-Nawawi juga menambahkan, "Didalam permasalah membaca surat setelah Al-Fatihah, maka hukumnya adalah sunnah. Dan ini merupakan ijma' para ulama' untuk membacanya di dua rakaat shalat Shubuh, dua rakaat shalat jum'at dan dua rakaat pertama dari seluruh shalat. Sedangkan kabar yang disampaikan oleh al-Qodhi bin 'Iyadh bahwasannya
KoZ49Y. 5 Jan asbabun nuzul surah alqurโan 48. dan apabila dikatakan kepada mereka โRukuklah, niscaya mereka tidak mau rukuโ*. Al-Mursalaat 48 * Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan rukuk di sini ialah tunduk kepada perintah Allah; sebagian yang lainnya mengatakan, Maksudnya ialah shalat. Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Mujahid bahwa Firman Allah, wa idzaa qiila lahumurkaโuu laa yarkaโuun dan apabila dikatakan kepada mereka โRukuklah, niscaya mereka tidak mau rukuโ Al-Mursalaat 48 turun berkenaan dengan suku Tsaqif yang tidak mau rukuk shalat. Sumber Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk Tagal mursalaat, al mursalat, Al-qur'an, Asbabun nuzul, bahasa indonesia, hadits, islam, religion, riwayat, surah, surat, tafsir
Surah Al-Mursalat adalah surah yang terakhir dari Juz ke-29 dan merupakan surah terakhir dari surah-surah Thiwal Al-Mufashshal yang dimulai dari surah Qaf hingga surah Al-Mursalat. Surah Al-Mursalat dari ayat pertama hingga terakhir termasuk surah Makkiyah berdasarkan pendapat jumhur ulama [1]. Dan jika kita melihat surah ini, maka kita akan dapati bahwa nuansa surah ini sama dengan surah-surah Makkiyah lainnya yang isinya adalah pengingkaran serta bantahan terhadap orang-orang musyrikin yang mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, kecuali satu ayat di mana Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฅูุฐูุง ููููู ููููู
ู ุงุฑูููุนููุง ููุง ููุฑูููุนูููู โDan apabila dikatakan kepada mereka, โRukuklah,โ mereka tidak mau rukuk.โ QS. Al-Mursalat 48 Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini merupakan ayat Madaniyah karena shalat baru banyak dibicarakan tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam berpindah dari Mekkah ke Madinah. Akan tetapi hal ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa ayat ini tetap termasuk Makkiyah, karena firman Allah Subhanahu wa taโala ini maksudnya adalah โJika mereka diperintahkan untuk masuk Islam mereka engganโ, yaitu Islam diungkapkan dengan rukuโ shalat, karena seseorang untuk bisa shalat dan rukuk, maka ia harus masuk Islam terlebih dahulu. Dan hal seperti ini pun sama dalam ayat-ayat yang lain seperti firman Allah Subhanahu wa taโala, ููููุฏู ููุงูููุง ููุฏูุนููููู ุฅูููู ุงูุณููุฌููุฏู ููููู
ู ุณูุงููู
ูููู โDan sungguh, dahulu di dunia mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat tetapi mereka tidak melakukan.โ QS. Al-Qalam 43 [2] Surah Al-Qalam juga termasuk surah Makkiyah. Dan ayat ini bercerita tentang orang-orang musyrikin yang diperintahkan sujud, maksudnya adalah diperintahkan untuk masuk Islam. Demikian pula firman Allah Subhanahu wa taโala dalam surah Al-Muddatstsir, ู
ูุง ุณูููููููู
ู ููู ุณูููุฑูุ ููุงูููุง ููู
ู ูููู ู
ููู ุงููู
ูุตููููููู โApa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar?โ Mereka menjawab, โDahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.โ QS. Al-Muddatstsir 42-43 Ayat ini maksudnya adalah orang-orang musyrikin dahulu tidak shalat dan tidak beriman tidak masuk Islam, sehingga menjerumuskan mereka ke dalam neraka Saqar. Oleh karenanya pendapat yang lebih benar adalah surah Al-Mursalat dari awal hingga akhir turun sebelum Nabi shallallahu alaihi wasallam berhijrah atau dengan kata lain termasuk surah Makkiyah. Surah Al-Mursalat juga dikenal dengan surah Al-Urf[3] sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุงููู
ูุฑูุณูููุงุชู ุนูุฑูููุง โDemi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan.โ QS. Al-Mursalat 1 ุนูุฑูููุง adalah satu kata yang tidak terdapat dalam surah-surah yang lain. Dan para ulama terbiasa memberi nama sebuah surah dengan menyebutkan awal surah atau menyebutkan satu kata dari surah tersebut yang tidak terdapat pada surah-surah yang lain. Oleh karenanya para ulama juga menyebut surah Al-Mursalat dengan surah Al-Urf karena kalimat ุนูุฑูููุง hanya ada pada surah Al-Mursalat. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa surah Al-Mursalat merupakan surah Makkiyah adalah perkataan Ibnu Masโud radhiallahu anhu. Beliau berkata, ููุฒูููุชู ููุงููู
ูุฑูุณููุงุชู ุนูุฑููุงู ุนูููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููููููุฉู ุงููุฌูููู ููููุญููู ู
ูุนููู ููุณููุฑูุ ุญูุชููู ุฃูููููููุง ุฅูููู ุบูุงุฑู ุจูู
ูููู ููููุฒูููุชูุ ููุจูููููุง ููุญููู ููุชููููููุงููุง ู
ูููููุ ููุฅูููู ููุงูู ููุฑูุทูุจู ุจูููุง ุฅูุฐู ููุซูุจูุชู ุญููููุฉูุ ููููุซูุจูููุง ุนูููููููุง ููููููุชูููููุง ููุฐูููุจูุชูุ ููููุงูู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ูููููุชูู
ู ุดูุฑููููุง ููู
ูุง ููููููุชู ุดูุฑููููู
ู โAyat Warmusalaati Urfaaโ turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam Al-Jin[4] dan kami bersama sedang berjalan bersama beliau. Sampai ketika kami bernaung untuk bersembunyi di sebuah gua di Mina, maka turun ayat tersebut. Maka Nabi mengajarkan ayat tersebut kepada kami. Dan ketika baru saja ayat tersebut diajarkan kepada kami, tiba-tiba muncul seekor ular. Maka kami pergi untuk membunuhnya, akan tetapi ular itu kabur. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata Kalian telah selamat dari keburukan ular tersebut sebagaimana ular itu telah selamat dari keburukan kalianโ.โ[5] Ini menunjukkan bahwa surah ini turun di Mekkah sebelum Nabi shallallahu alaihi wasallam berhijrah ke Madinah. Dan nuansa surah ini juga jelas berbicara tentang hari kiamat, tentang membantah orang-orang musyrikin yang mengingkari hari kiamat. Berbeda dengan ciri-ciri surah Madaniyah yang biasanya isinya berkaitan dengan fikih dan hukum-hukum. Surah Al-Mursalat adalah surah yang terakhir dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam shalat berjamaรกh jahriyah sebelum beliau meninggal dunia, yaitu dalam shalat maghrib. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang sakit parah akan meninggal dunia, shalat jahriyah yang terakhir beliau imami adalah shalat maghrib, dan tatkala itu Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca surah Al-Mursalat. Dan kita tahu bahwasanya pada waktu shalat maghrib, Nabi shallallahu alaihi wasallam biasanya membaca surah-surah Qishar Al-Mufashshal[6]. Adapun surah-surah Tiwal Al-Mufashshal yang di dalamnya termasuk surah Al-Mursalat biasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam baca pada saat shalat subuh. Adapun Aushat Al-Mufashshal[7] biasa Nabi shallallahu alaihi wasallam baca pada shalat-shalat subuh. Adapun yang disebut dengan surah-surah Mufashshal adalah surah yang terdiri dari surah Qaf hingga surah An-Naas. Intinya adalah ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam sakit akan meninggal, beliau menjadi imam shalat maghrib dan membaca surah Al-Mursalat. Dan kita tahu bahwa ini bukanlah kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, ููุฑูุฃูุชู ุณููุฑูุฉู ููุงููู
ูุฑูุณููุงุชู ุนูุฑููุงู ููุณูู
ูุนูุชูููู ุฃูู
ูู ุงููููุถููู ุงู
ูุฑูุฃูุฉู ุงููุนูุจููุงุณูุ ููุจูููุชู ููููุงููุชู ููุงูููููู ููุง ุจูููููู ููููุฏู ุฃูุฐูููุฑูุชูููู ุจูููุฑูุงุกูุชููู ููุฐููู ุงูุณูููุฑูุฉู ุฅููููููุง ููุขุฎูุฑู ู
ูุง ุณูู
ูุนูุชู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููููุฑูุฃู ุจูููุง ููู ุตูููุงุฉู ุงููู
ูุบูุฑูุจู โAku membaca surah Walmursalati urfaaโ, maka Ummu Al-Fadhl istri Abbas ibuku mendengarku membacanya. Maka dia pun menangis dan berkata Demi Allah Wahai anakku, engkau telah mengingatkanku ketika engkau membaca surah ini. Sesungguhnya ini adalah surah terakhir yang aku dengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membacanya pada shalat maghrib.โ[8] Dan keterkaitan antara surat ini dengan yang sebelumnya adalah tatkala Allah pada surat sebelumnya yaitu surat al-Muddattsir berbicara tentang hari kiamat dan Allah menjelaskan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang yang ia kehendaki ke dalam surga, dan orang-orang yang zholim ke dalam neraka, maka pada ayat ini Allah azza wa jalla bersumpah bahwa itu akan terjadi dan Allah menjelaskan kapan waktunya dan tanda-tandanya, sehingga Allah bersumpah bahwa semua yang terkandung pada surat sebelumnya pasti terjadi. [9] Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุงููู
ูุฑูุณูููุงุชู ุนูุฑูููุงุ ููุงููุนูุงุตูููุงุชู ุนูุตูููุงุ ููุงููููุงุดูุฑูุงุชู ููุดูุฑูุงุ ููุงููููุงุฑูููุงุชู ููุฑูููุงุ ููุงููู
ูููููููุงุชู ุฐูููุฑูุงุ ุนูุฐูุฑูุง ุฃููู ููุฐูุฑูุงุ ุฅููููู
ูุง ุชููุนูุฏูููู ููููุงููุนู โDemi yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan malaikat-malaikat yang menyebarkan rahmat Allah dengan seluas-luasnya, dan malaikat-malaikat yang membedakan antara yang baik dan yang buruk dengan sejelas-jelasnya, dan malaikat-malaikat yang menyampaikan wahyu. Untuk menolak alasan-alasan uzur atau memberi peringatan. Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.โ QS. Al-Mursalat 1-7 Allah Subhanahu wa taโala membuka firman-Nya dengan sumpah terhadap lima hal. Terdapat tiga metode para ulama dalam menafsirakan lima ayat ini. Metode pertama, firman Allah Subhanahu wa taโala ini berkaitan dengan angin sehingga seluruh ayat-ayat tersebut Allah Subhanahu wa taโala bersumpah tentang angin. [10] Metode kedua, firman Allah Subhanahu wa taโala ini berkaitan tentang malaikat sehingga maksudnya seluruh ayat-ayat tersebut adalah Allah Subhanahu wa taโala bersumpah atas nama malaikat. [11] Metode ketiga, firman Allah Subhanahu wa taโala ini berkaitan dengan angin dan malaikat. Ayat pertama hingga kedua maka itu berkaitan dengan angin, sedangkan ayat ketiga hingga kelima maka itu berkaitan dengan malaikat. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Thahir Ibnu Asyur dalam kitabnya At-Tahrir wa At-Tanwir[12], serta pendapat yang lebih kuat insyaallah. Firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุงููู
ูุฑูุณูููุงุชู ุนูุฑูููุงุ ููุงููุนูุงุตูููุงุชู ุนูุตูููุง โDemi angin yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya.โ QS. Al-Mursalat 1-2 Dua ayat ini berbicara tentang angin. Kata ุนูุฑูููุง dalam bahasa Arab artinya adalah rambut yang ada di punggung leher kuda, yang jika kuda telah bergerak, maka rambutnya tampak berjalan berturut-turut [13]. Maka dari sini pada ulama mengatakan bahwa maksud firman Allah Subhanahu wa taโala ููุงููู
ูุฑูุณูููุงุชู ุนูุฑูููุง adalah Demi angin yang Allah Subhanahu wa taโala kirimkan secara berturut-turut. Dan ayat selanjutnya dan yang terbang dengan kencangnya menjelaskan bahwa ketika angin sudah datang berturut-turut, maka angin tersebut kemudian berhembus dengan sekencang-kencangnya dan menghancurkan apa yang dilewatinya. Dan perlu untuk diketahui bahwa kata ู dalam bahasa Arab tidak menandakan sumpah, melainkan sebagai penggandeng. Adapun huruf yang menandakan sumpah adalah huruf ู. Sehingga ayat ููุงููุนูุงุตูููุงุชู ุนูุตูููุง merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya. Firman Allah Subhanahu wa taโala selanjutnya, ููุงููููุงุดูุฑูุงุชู ููุดูุฑูุงุ ููุงููููุงุฑูููุงุชู ููุฑูููุงุ ููุงููู
ูููููููุงุชู ุฐูููุฑูุงุ ุนูุฐูุฑูุง ุฃููู ููุฐูุฑูุง โDemi malaikat-malaikat yang menyebarkan rahmat Allah dengan seluas-luasnya, dan malaikat-malaikat yang membedakan antara yang baik dan yang buruk dengan sejelas-jelasnya, dan malaikat-malaikat yang menyampaikan wahyu. Untuk menolak alasan-alasan uzur atau memberi peringatan.โ QS. Al-Mursalat 3-6 Kata ุงูููุดูุฑู merupakan lawan kata dari kata ุงูุทููููู yang artinya membuka, sehingga ุงูููุดูุฑู artinya adalah membuka. Banyak tafsiran para ulama tentang firman Allah Subhanahu wa taโala ููุงููููุงุดูุฑูุงุชู ููุดูุฑูุง, di antara maknanya adalah Demi malaikat yang mengirimkan awanโ, atau Demi malaikat yang membuka catatan amalโ. [14] Adapun firman Allah Subhanahu wa taโala ููุงููููุงุฑูููุงุชู ููุฑูููุง maksudnya adalah demi malaikat yang membedakan antara haq dan batil [15], membedakan antara petunjuk dan kesesatan, atau membedakan antara kafir dan mukmin. Dan firman Allah Subhanahu wa taโala ููุงููู
ูููููููุงุชู ุฐูููุฑูุง maksudnya adalah malaikat yang menyampaikan peringatan[16]. Telah ijmaโ para ulama bahwa maksud ayat ini adalah malaikat [17]. ุฐูููุฑูุง maksudnya adalah pelajaran atau peringatan. Maka jika diartikan dengan angin, maka kita tahu bahwa angin tidak bisa menyampaikan peringatan. Sedangkan malaikat mampu untuk menyampaikan peringatan berupa wahyu, Alquran, dan yang lainnya. Akan tetapi para ulama yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan rentetan sumpah tentang angin memberikan takwil bahwa ayat ini maksudnya adalah angin yang berhembus kencang yang membuat bencana itu adalah peringatan bagi manusia agar mereka ingat kepada Allah Subhanahu wa taโala, sehingga secara tidak langsung angin tersebut menjadi peringatan bagi manusia [18]. Akan tetapi tafsir dengan malaikat lebih tepat. Dan tujuan Allah Subhanahu wa taโala menurunkan wahyu kepada para malaikat adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ุนูุฐูุฑูุง ุฃููู ููุฐูุฑูุง โUntuk menolak alasan-alasan uzur atau memberi peringatan.โ Artinya manusia tidak memiliki hujjah dan bantahan lagi di hadapan Allah Subhanahu wa taโala karena Dia telah menigrimkan wahyu-Nya melalui malaikat kepada Rasul-Nya. Dan wahyu juga diturunkan sebagai peringatan bagi manusia untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taโala setelah tersampaikan kepada mereka ayat-ayat Allah Subhanahu wa taโala. Allah Subhanahu wa taโala bersumpah dalam enam ayat sebelumnya dengan tujuan penekanan suatu permasalahan. Yaitu firman Allah Subhanahu wa taโala Subhanahu wa taโala, ุฅููููู
ูุง ุชููุนูุฏูููู ููููุงููุนู โSungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.โ Apa yang Allah Subhanahu wa taโala janjikan kepada orang-orang musyrikin Arab? Yaitu akan ada hari kiamat [19], akan ada tiupan sangkakala, akan ada hari di mana mereka akan dibangkitkan. Dan mereka akan dikumpulkan di padang mahsyar, kemudian mereka akan disidang oleh Allah Subhanahu wa taโala, dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. ini semua adalah janji yang pasti akan diberikan dari Allah Subhanahu wa taโala untuk orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa taโala ููุฅูุฐูุง ุงููููุฌููู
ู ุทูู
ูุณูุชูุ ููุฅูุฐูุง ุงูุณููู
ูุงุกู ููุฑูุฌูุชูุ ููุฅูุฐูุง ุงููุฌูุจูุงูู ููุณูููุชูุ ููุฅูุฐูุง ุงูุฑููุณููู ุฃููููุชูุชูุ ููุฃูููู ููููู
ู ุฃูุฌููููุชูุ ููููููู
ู ุงููููุตูููุ ููู
ูุง ุฃูุฏูุฑูุงูู ู
ูุง ููููู
ู ุงููููุตููู โMaka apabila bintang-bintang dihapuskan, dan apabila langit terbelah, dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu, dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya. Niscaya dikatakan kepada mereka, โSampai hari apakah ditangguhkan azab orang-orang kafir itu?โ Sampai hari keputusan. Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?โ QS. Al-Mursalat 8-14 Allah Subhanahu wa taโala menyebutkan tentang kapan Allah akan tunaikan janji-Nya kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa taโala mulai menyebutkan waktunya dengan berfirman, ููุฅูุฐูุง ุงููููุฌููู
ู ุทูู
ูุณูุชู โMaka apabila bintang-bintang dihapuskan.โ ุทู
ุณ dalam bahasa Arab bisa ibarat sebuah buku yang telah lama, sehingga tulisan di dalamnya mulai hilang [20]. Oleh karenanya para ulama menafsirkan bahwa maksud firman Allah Subhanahu wa taโala ini adalah tatkala bintang-bintang dihilangkan cahayanya. Dan cahaya bintang-bintang itu mulai hilang ketika telah terjadi hari kiamat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฅูุฐูุง ุงูุดููู
ูุณู ูููููุฑูุชูุ ููุฅูุฐูุง ุงููููุฌููู
ู ุงููููุฏูุฑูุชู โApabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang telah hilang cahayanya.โ QS. At-Takwir 1-2 Kemudian Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฅูุฐูุง ุงูุณููู
ูุงุกู ููุฑูุฌูุชู โDan apabila langit terbelah.โ Ketika terjadi hari kiamat, maka langit-langit pada awalnya akan terbelah kecil, kemudian terbelah besar sehingga menjadi lemah. Kemudian langit tersebut dilipat oleh Allah Subhanahu wa taโala. Maka apa-apa yang akan menimpa orang-orang musyrikin Arab akan terjadi pada hari kiamat kelak, yaitu tatkala langit-langit terbelah. Kemudian Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฅูุฐูุง ุงููุฌูุจูุงูู ููุณูููุชู โDan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu.โ Para ulama menafsirkan bahwa makna ููุณูููุชู adalah gunung-gunung yang dicabut dari tempatnya dengan cepat [21]. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa ketika hari kiamat terjadi, maka gunung-gunung memiliki proses di mana pertama dicabut dengan kuat oleh Allah Subhanahu wa taโala dari pangkalnya, kemudian diterbangkan, lalu ditabrakkan dengan gunung-gunung yang lain sehingga menjadi hancur lebur. Demikianlah kesudahan gunung-gunung pada hari kiamat kelak. Kemudian Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฅูุฐูุง ุงูุฑููุณููู ุฃููููุชูุชู โDan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya.โ Kata ุฃููููุชูุชู berasal dari ูููููุชูุชู [22] yang artinya para Rasul dikumpulkan pada waktu tertentu, yaitu hari kiamat [23]. Para Rasul kelak akan dikumpulkan pada hari kiamat untuk ditanya oleh Allah Subhanahu wa taโala, ููููู
ู ููุฌูู
ูุนู ุงูููููู ุงูุฑููุณููู ููููููููู ู
ูุงุฐูุง ุฃูุฌูุจูุชูู
ู ููุงูููุง ููุง ุนูููู
ู ููููุง ุฅูููููู ุฃูููุชู ุนููููุงู
ู ุงููุบููููุจู โPada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya kepada mereka, Apa jawaban kaummu terhadap seruanmu?โ.โ QS. Al-Maidah 109 Maka pada hari itu dihadirkan antara para Nabi dan umatnya untuk disidang di hadapan Allah Subhanahu wa taโala. Maka maksud ayat ini adalah para Rasul akan dikumpulkan pada waktu tertentu untuk dihadapkan dengan umatnya untuk disidang di antara mereka. Dan Allah menyebutkan tanda-tanda hari kiamat mengandung unsur peringatan kuat agar orang-orang kafir itu tidak meremehkan hari kiamat, begitu juga Allah azza wa jalla selalu ulang kalimat ุฅูุฐูุง apabila pada setiap tanda, agar orang-orang benar-benar perhatian dengan kandungan-kandungannya. [24] Kemudian Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฃูููู ููููู
ู ุฃูุฌููููุชูุ ููููููู
ู ุงููููุตูููุ ููู
ูุง ุฃูุฏูุฑูุงูู ู
ูุง ููููู
ู ุงููููุตูููุ โNiscaya dikatakan kepada mereka, Sampai hari apakah ditangguhkan azab orang-orang kafir itu?โ yaitu Sampai hari keputusan. Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?โ Allah berfirman di dalam ayat ini dengan konteks pertanyaan untuk mengisyaratkan akan beratnya keadaan hari itu. [25] Disebutkan dalam sebagian riwayat, ุฅูุฐูุง ุญูุดูุฑู ุงููููุงุณู ููููู
ู ุงููููููุงู
ูุฉูุ ููุงู
ููุง ุฃูุฑูุจูุนููููุ ุนูููู ุฑุคูุณูู
ุงูุดููู
ูุณูุ ุดูุงุฎูุตูุฉู ุฃูุจูุตูุงุฑูููู
ู ุฅูููู ุงูุณููู
ูุงุกูุ ููููุชูุธูุฑูููู ุงููููุตููู โApabila manusia dibangkitkan pada hari kiamat, selama empat puluh tahun mereka berdiri sementara matahari berada di atas kepala mereka. Mereka mengangkat pandangan ke arah langit menunggu keputusan.โ[26] ุงูููุตููู artinya pembeda, dan disebut dengan Al-Fashlu karena pada hari itu adalah hari pembeda antara yang haq dan yang bathil, dan jelasnya bagi orang kafir apa-apa yang rancu dan tidak mereka percayai selama di dunia. [27] Pada hari tersebut Allah Subhanahu wa taโala turun untuk menyidang seluruh manusia disebut dengan Yaum Al-Fashl hari penentuan. Setelah manusia dibangkitkan pada hari kiamat, mereka kemudian menunggu kedatangan Allah Subhanahu wa taโala. Maka pada saat itulah ada yang namanya syafaat, mereka datang kepada para Nabi untuk meminta syafaat. Setelah itu semua terjadi, maka tibalah Yaum Al-Fashl hari persidangan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุฌูุงุกู ุฑูุจูููู ููุงููู
ููููู ุตููููุง ุตููููุง โDan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris.โ QS. Al-Fajr 22 Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โCelakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 15 Allah Subhanahu wa taโala mengulang ayat ini dalam surah Al-Mursalat sebanyak sepuluh kali. Dan hal ini bukanlah kebiasaan Allah Subhanahu wa taโala pada surah-surah yang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan bahwa Allah Subhanahu wa taโala mengulang ayat ini berkali-kali karena banyak hal yang orang-orang musyrikin Arab dustakan. Mereka mendustakan hari kiamat, mendustakan hari kebangkitan, mendustakan Nabi shallallahu alaihi wasallam, mendustakan Alquran, dan yang lainnya [28]. Karena saking banyaknya hal yang mereka dustakan, maka Allah Subhanahu wa taโala mengakatan โCelakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaranโ berkali-kali sebanyak bentuk kedustaan mereka. Dan pengulangan ayat ini merupakan peringatan bahwasanya Allah Subhanahu wa taโala akan mengazab mereka sesuai kadar kedustaan mereka, karena jika Allah Subhanahu wa taโala telah memberikan azab maka azab tersebut akan detail. Oleh karenanya Imam Al-Quthubi rahimahullah menyebutkan bahwa pengulangan ayat bukan sekedar mengulangi penekanan, akan tetapi karena pendustaan mereka yang banyak sehingga harus diperinci satu persatu. Adapun ูููููู, terdapat dua penafsiran tentang kata ini. ูููููู secara bahasa bermakna celaka. Adapun secara istilah, ูููููู adalah ููุงุฏู ููู ุฌููููููู
ู yaitu nama lembah yang ada di neraka Jahannam [29], dan lembah tersebut berisi kotoran-kotoran yang terkumpul. Sebagaimana kita ketahui bahwa penghuni neraka memiliki kotoran-kotoran berupa darah, nanah, serta cairan dari kemaluan mereka. Semua kotoran busuk tersebut mengalir dan terkumpul pada suatu lembah di neraka yang bernama lembah ูููููู. Akan tetapi penafsiran secara istilah ini tidak memiliki dalil yang sahih, hanya saja sebagian para salaf menyebutkan ini sebagai tafsiran dari kata ูููููู. Adapun sebagian ulama mengatakan bahwa ูููููู dalam ayat ini bermakna umum yaitu ungkapan โcelakaโ [30]. Adapun azab apa yang Allah Subhanahu wa taโala akan berikan kepada mereka itu menjadi urusan Allah Subhanahu wa taโala. Dan pendapat ini merupakan pendapat yang lebih benar. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุฃูููู
ู ูููููููู ุงููุฃูููููููููุ ุซูู
ูู ููุชูุจูุนูููู
ู ุงููุขุฎูุฑููููุ ููุฐููููู ููููุนููู ุจูุงููู
ูุฌูุฑูู
ููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โBukankah telah Kami binasakan orang-orang yang dahulu? Lalu Kami susulkan azab Kami terhadap orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami perlakukan orang-orang yang berdosa. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 16-19 Ayat ini adalah dalil pertama yang Allah Subhanahu wa taโala bawakan untuk menekankan akan adanya hari kebangkitan. Firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฃูููู
ู ูููููููู ุงููุฃููููููููู โBukankah telah Kami binasakan orang-orang yang dahulu?โ Sebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang terdahulu telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa taโala. Di antaranya adalah kaum Nabi Nuh alaihissalam, kaum Nabi Shaleh alaihissalam, kaum Nabi Hud alaihissalam, serta Firโaun dan bala tentaranya. Dan kabar tentang kebinasaan orang-orang terdahulu ini diketahui oleh orang-orang musyrikin.[31] Setelah Allah Subhanahu wa taโala mengingatkan mereka tentang kebinasaan orang-orang terdahulu, Allah Subhanahu wa taโala kemudian mengingatkan mereka dengan berfirman, ุซูู
ูู ููุชูุจูุนูููู
ู ุงููุขุฎูุฑููููุ ููุฐููููู ููููุนููู ุจูุงููู
ูุฌูุฑูู
ูููู โLalu Kami susulkan azab Kami terhadap orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami perlakukan orang-orang yang berdosa.โ Pada ayat ini Allah Subhanahu wa taโala memberikan ancaman kepada orang-orang musyrikin. Selama mereka melakukan kezaliman, melakukan kemaksiatan, dan melakukan kesyirikan, maka nasib mereka akan sama dengan orang-orang terdahulu yang telah dibinasakan [32]. Setelah itu Allah Subhanahu wa taโala mengulangi kembali firman-Nya dengan berkata, ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โCelakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ Sebagian ulama mengatakan bahwa rangkaian firman Allah ini memberikan makna tersirat bahwasanya mudah bagi Allah Subhanahu wa taโala untuk membangkitkan mereka kembali pada hari kiamat kelak. Karena Allah Subhanahu wa taโala yang menciptakan dan mematikan manusia, maka untuk menciptakan ulang adalah hal yang mudah dan bukanlah hal yang mustahil. Sebagaimana Allah mudah untuk menciptakan dan mematikan mereka, maka mudah bagi Allah Subhanahu wa taโala untuk melakukan tindakan berikutnya. Tatkala Allah Subhanahu wa taโala menyebutkan bahwa pernah menciptakan orang-orang terdahulu, kemudian mematikan mereka, maka ini berarti Allah yang berkuasa mengatur hidup dan matinya mereka. Sehingga secara logika Allah Subhanahu wa taโala bisa mengambil tindakan berikutnya yaitu membangkitkan mereka. Maka tersirat makna bahwa mengapa orang-orang musyrikin masih mendustakan hari kebangkitan? Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุฃูููู
ู ููุฎูููููููู
ู ู
ููู ู
ูุงุกู ู
ููููููุ ููุฌูุนูููููุงูู ููู ููุฑูุงุฑู ู
ููููููุ ุฅูููู ููุฏูุฑู ู
ูุนููููู
ูุ ููููุฏูุฑูููุง ููููุนูู
ู ุงููููุงุฏูุฑููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โBukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina mani, kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh rahim, sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan bentuknya, maka Kamilah sebaik-baik yang menentukan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 20-25 Ayat ini adalah dalil kedua yang Allah Subhanahu wa taโala bawakan untuk mengabarkan adanya hari kebangkitan. Firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฃูููู
ู ููุฎูููููููู
ู ู
ููู ู
ูุงุกู ู
ููููููุ ููุฌูุนูููููุงูู ููู ููุฑูุงุฑู ู
ููููููุ ุฅูููู ููุฏูุฑู ู
ูุนููููู
ู โBukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina mani, kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh rahim, sampai waktu yang ditentukan.โ Dari ayat ini, Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa tidak boleh seseorang menggugurkan kandungan yang telah masuk dalam proses implantasi.[33] Karena Allah Subhanahu wa taโala mengatakan โKemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh rahimโ, maka tidak boleh seseorang melepaskan kandungan tersebut dari tempat yang kokoh tersebut. Jika seseorang menggugurkan kandungan tersebut meskipun belum sampai empat bulan, maka dia telah berdosa. Adapun jika seseorang menggugurkan kandungan setelah empat bulan setelah ditiupkan ruh, maka hukumnya dia telah membunuh. Meskipun berbeda dosa aborsi sebelum dan setelah ditiupkannya ruh, tetap saja perbuatan tersebut tidak boleh. Dan dengan ayat ini Allah azza wa jalla semakin menghinakan pemikiran orang yang mengingkari hari kebangkitan yaitu dengan membuktikan bahwa Allah azza wa jalla mampu menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada. [34] Dan faedah dari penyebutan โair yang hinaโ adalah untuk lebih menekankan dan menampakkan akan kekuasaan dan kekuatan Allah azza wa jalla, yaitu Allah mampu menciptakan makhluq yang kuat dan sempurna akalnya hanya dari air hina[35] yang mengandung keharusan bagi mereka untuk mengesakan Allah azza wa jalla Kemudian firman Allah Subhanahu wa taโala, ููููุฏูุฑูููุง ููููุนูู
ู ุงููููุงุฏูุฑููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โLalu Kami tentukan bentuknya, maka Kamilah sebaik-baik yang menentukan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ Ada dua penafsiran terkait ayat ini. Tafsiran pertama, maksudnya adalah Allah Subhanahu wa taโala menakdirkan tentang bagaimana rupanya[36], tentang berapa lama usianya, dan tentang rezekinya. Jika kita bicara tentang takdir dari segi hukum manusia, maka takdir diibaratkan seperti insinyur yang telah memiliki sketsa dan perhitungan sebelum melakukan apa-apa yang ingin dia lakukan. Akan tetapi bagaimanapun sempurnanya seorang insinyur di dunia, pasti ada salahnya meskipun hanya sedikit. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa taโala menekankan bahwa Dia-lah yang terbaik dalam menentukan kehendak-Nya. Maka demikianlah Allah Subhanahu wa taโala, sebelum diciptakannya manusia, Dia telah menentukan bagaimana rupa dan jasad mereka, bagaimana nasib mereka terkait umur dan rezeki mereka. Dan perlu untuk diperhatikan bahwa lafal ุงููููุงุฏูุฑูููู adalah bentuk jamak sebagaimana lafal ููููุฏูุฑูููุง yang menunjukkan โKamiโ. Dan kata โKamiโ dalam bahasa Arab tidak melazimkan berbilang, melainkan terkadang kata plural jamak digunakan untuk pengagungan. Tafsiran kedua, maksudnya adalah Allah Subhanahu wa taโala adalah pemilik dan Dia adalah sebaik-baik pemilik[37]. Artinya adalah jika Allah Subhanahu wa taโala adalah pemilik, maka Dia bebas untuk mengatur apa yang dimiliki-Nya. Sehingga jika mereka adalah milik Allah Subhanahu wa taโala, maka membangkitkan mereka adalah terserah Allah Subhanahu wa taโala. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa taโala berdalil untuk menunjukkan adanya kebangkitan dengan adanya permulaan. Artinya adalah sebagaimana Allah Subhanahu wa taโala bisa memulai permulaan, maka Allah Subhanahu wa taโala juga bisa untuk mengulanginya lagi. Dan secara logika, mengulang sesuatu yang sudah dimulai terkadang akan lebih mudah. Akan tetapi barometer di sisi Allah Subhanahu wa taโala, mengulang dan memulai sama saja. Maka Allah Subhanahu wa taโala ingin menjelaskan mengingkari hari kebangkitan adalah kesalahan, karena Allah Subhanahu wa taโala pernah menciptakan mereka dan untuk menciptakan kembali adalah perkara yang mudah. Dan dengan ayat ini Allah azza wa jalla menekankan perintah untuk mengesakan Allah azza wa jalla dan ancaman untuk mereka yang inkar, seakan-akan Allah azza wa jalla berkata kalian adalah ciptaanku yang aku ciptakan dari air yang hina, lalu aku letakkan di dalam rahim dan seterusnya, bukankah Pencipta yang seperti ini lebih berhak untuk disyukuri dan diesakan serta diibadahi, akan tetapi kalian malah berbuat syirik dan kalian mengingkari nikmat-nikmatNya dan mengingkari hari kebangkitan. Maka karena kalian mengingkari nikmat-nikmat ini tunggulah adzabku terhadap orang-orang yang mengingkari nikmat-nikmat ini. [38] Dan sebagaimana yang kita saksikan, bahwa ketika seseorang mengungkit kebaikannya, itu adalah tanda bahwa ia sedang benar-benar memperingati lawan bicaranya. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุฃูููู
ู ููุฌูุนููู ุงููุฃูุฑูุถู ููููุงุชูุงุ ุฃูุญูููุงุกู ููุฃูู
ูููุงุชูุงุ ููุฌูุนูููููุง ูููููุง ุฑูููุงุณููู ุดูุงู
ูุฎูุงุชู ููุฃูุณูููููููุงููู
ู ู
ูุงุกู ููุฑูุงุชูุงุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โBukankah Kami jadikan bumi untuk tempat berkumpul, bagi yang masih hidup dan yang sudah mati? Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar? Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 25-28 Kemudian Allah Subhanahu wa taโala membawakan dalil ketiga. Firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฃูููู
ู ููุฌูุนููู ุงููุฃูุฑูุถู ููููุงุชูุงุ ุฃูุญูููุงุกู ููุฃูู
ูููุงุชูุง โBukankah Kami jadikan bumi untuk tempat berkumpul, bagi yang masih hidup dan yang sudah mati?โ Kata ููููุงุชูุง dalam bahasa Arab berarti menggabungkan. Sebagaimana dalam suatu hadits, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, ููุงูู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ุฃูู
ูุฑูุชู ุฃููู ุฃูุณูุฌูุฏู ุนูููู ุณูุจูุนูุฉู ุฃูุนูุธูู
ู ุนูููู ุงูุฌูุจูููุฉูุ ููุฃูุดูุงุฑู ุจูููุฏููู ุนูููู ุฃููููููู ููุงูููุฏููููู ููุงูุฑููููุจูุชูููููุ ููุฃูุทูุฑูุงูู ุงูููุฏูู
ููููู ูููุงู ููููููุชู ุงูุซููููุงุจู ููุงูุดููุนูุฑู โNabi shallallahu alaihi wasallam berkata Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan Dahi termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya, telapak tangan kanan dan kiri, lutut kanan dan kiri, dan ujung kaki kanan dan kiri. Dan kami dilarang mengumpulkan pakaian dan rambutโ.โ[39] ุงูููุช dalam hadits ini maksudnya adalah seseorang dilarang menggabungkan atau melipat kainnya ketika shalat. Para ulama menyebutkan di antara hikmahnya adalah karena shalat dengan melipat pakaian terlebih dahulu seakan-akan menunjukkan kesombongan [40]. Oleh karenanya hendaknya seseorang membiarkan pakaiannya menyentuh tanah, serta membiarkan rambutnya terurai. Maka maksud dari firman Allah Subhanahu wa taโala ini adalah bumi dijadikan tempat untuk mengumpulkan manusia. Yang masih hidup berada di bumi, dan yang telah mati pun juga berada di bumi. Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa taโala menjelaskan tentang fungsi dari bumi adalah tempat dikumpulkannya manusia. Yang masih hidup dikumpulkan di atas bumi, dan yang telah meninggal dikumpulkan di dalam bumi [41]. Dan para ulama mengatakan bahwa ini merupakan dalil bahwa jika seseorang meninggal dunia, maka dia harus dikubur. Sebabnya adalah karena Allah Subhanahu wa taโala menyebutkan ayat ini dalam bentuk imtinan anugerah. Bahkan tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam perang Badr, beliau menguburkan orang-orang yang meninggal dalam perang Badr meskipun mereka adalah orang kafir. Maka hukum asalnya adalah manusia harus dikuburkan kecuali darurat.[42] Oleh karenanya para ulama mengingkari sebagian perbuatan orang-orang nonmuslim Hindu dan sebagian orang-orang Romawi dahulu yang membakar mayat. Demikian pula orang-orang Persia yang jika ada orang yang meninggal, mereka menempatkannya ditengah-tengah padang sebagai agar dimakan oleh burung-burung dan binatang buas, dan bagi mereka yang demikian adalah bentuk penghormatan kepada mayat. Kemudian firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุฌูุนูููููุง ูููููุง ุฑูููุงุณููู ุดูุงู
ูุฎูุงุชู ููุฃูุณูููููููุงููู
ู ู
ูุงุกู ููุฑูุงุชูุง โDan Kami jadikan padanya di bumi gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air segar?โ Dalam beberapa ayat, Allah Subhanahu wa taโala menyebutkan fungsi gunung-gunung di antaranya, ููุฃูููููู ููู ุงููุฃูุฑูุถู ุฑูููุงุณููู ุฃููู ุชูู
ููุฏู ุจูููู
ู ููุฃูููููุงุฑูุง ููุณูุจูููุง ููุนููููููู
ู ุชูููุชูุฏูููู โDan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak guncang bersama kamu, dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.โ QS. An-Nahl 15 Perlu untuk diketahui bahwa ayat ini dijadikan bahan ejekan oleh orang-orang Nasrani. Mereka mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa taโala menciptakan gunung agar bumi tidak berguncang, akan tetapi kenyataannya gunung-gunung itu adalah sebab gempa. Adapun bantahan untuk mereka, para ulama menjelaskan bahwasanya gunung itu sebagai pasak, dan yang menjulang ke bawah itu bisa jadi lebih panjang daripada yang menjulang ke atas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุงููุฌูุจูุงูู ุฃูููุชูุงุฏูุง โDan gunung-gunung sebagai pasak.โ QS. An-Nabaโ 7 Ahli Geologi menyebutkan bahwa fungsi gunung sebagai pasak tersebut untuk mengurangi getaran lempengan bumi, karena menurut mereka lempengan bumi senantiasa bergerak. Maka jika tidak ada gunung yang menahannya, maka akan sering terjadi gempa. Akan tetapi tatkala ada gunung, maka guncangan akan tertahan. Oleh karenanya tatkala terjadi gempa, yang hancur adalah lokasi yang jauh dari gunung, sementara lokasi yang berada di dekat gunung itu aman. Adapun gunung yang mengeluar lahar panas, maka pembahasannya pun berbeda, karena Allah Subhanahu wa taโala juga berbicara yang lain dalam hal ini. Dan tidak ada yang menjelaskan hakikat gunung seperti Islam. Lihatlah orang-orang Yunani, mereka menganggap gunung sebagai sesuatu tempat yang mulia, sehingga mereka mengatakan bahwa dewa-dewa mereka tinggal di gunung. Demikian pula orang-orang Jepang yang mengagungkan gunung Fuji. Demikian pula orang-orang India mengagungkan gunung Himalaya, dan mereka mengatakan bahwa dewa-dewa mereka berada di gunung-gunung. Sebagaimana pula sebagian orang Indonesia yang mengagungkan gunung agung. Intinya menurut sebagian mereka gunung adalah tempat yang megah dan tempat Tuhan-Tuhan atau dewa-dewa mereka berkumpul. Adapun Islam menganggap gunung adalah makhluk Allah biasa yang diciptakan untuk menghiasi bumi dan agar bumi tidak banyak guncangan. Adapun jika kita perhatikan dalam Injil, kita akan dapati keterangan yang kontradiksi. Dalam Injil Matius 1722 disebutkan, โIa berkata kepada mereka โKarena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini Pindah dari tempat ini ke sana, โ maka gunung ini akan pindah, dan tak akan ada yang mustahil bagimu.โ Matius. Maka jika kita tanyakan kepada mereka tentang sebesar apa iman mereka sekarang, tentu mereka akan menjawab bahwa iman mereka lebih besar daripada biji sawi. Maka seharusnya mereka sekarang telah bisa memindahkan gunung hanya dengan sekali perintah. Akan tetapi siapa yang bisa mempraktikan ayat ini? Jika tidak, berarti iman mereka semuanya kacau. Dalam kitab Mazmur berbunyi, โGunung-gunung melompat-lompat seperti domba jantan, dan bukit-bukit seperti anak domba.โ Mazmur. Sungguh aneh penjelasan orang-orang Nasrani. Penjelasan gunung-gunung dalam kitab mereka sungguh jauh dari kata logis dan ilmiah, berbeda dengan penjelasan Islam. Di ayat ini pula Allah Subhanahu wa taโala sebutkan nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada manusia. Inilah dalil ketiga yang Allah Subhanahu wa taโala bawakan. Dalil yang Allah Subhanahu wa taโala bawakan ini menerangkan tentang Allah yang menjadikan bumi, matahari, bulan, gunung-gunung, air untuk diminum, dan yang lainnya. Maka jika ini semua Allah Subhanahu wa taโala mampu ciptakan, maka tentu membangkitkan manusia pada hari kiamat adalah hal yang lebih mudah bagi Allah Subhanahu wa taโala. Inilah dalil ketiga yang Allah Subhanahu wa taโala terangkan kepada Abu Jahal dan teman-temannya, bahwasanya hari kebangkitan adalah hal yang mungkin terjadi. Dan dengan menjelaskan keadaan dan apa yang terjadi di bumi Allah azza wa jalla menekankan akan keesaanNya, dan dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah. [43] Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุงููุทููููููุง ุฅูููู ู
ูุง ููููุชูู
ู ุจููู ุชูููุฐููุจูููู โAkan dikatakan, Pergilah kamu mendapatkan apa azab yang dahulu kamu dustakanโ.โ QS. Al-Mursalat 25 Kelak pada hari kiamat Allah Subhanahu wa taโala akan berikan azab yang dahulu orang-orang musyrikin dustakan [44]. Dan sebuah penghinaan yang amat besar ketika seseorang akhirnya diperlihatkan sesuatu yang dia dustakan selama ini. Terlebih lagi orang-orang musyrikin menantang untuk didatangkan azab ketika itu, maka pada hari kiamat kelak mereka akan menuju apa yang mereka dustakan di dunia. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุงููุทููููููุง ุฅูููู ุธูููู ุฐูู ุซูููุงุซู ุดูุนูุจูุ ููุง ุธูููููู ููููุง ููุบูููู ู
ููู ุงููููููุจู โPergilah kamu mendapatkan naungan asap api neraka yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.โ QS. AL-Mursalat 30-31 ุธูููู adalah sebutkan terhadap bayangan/naungan yang digunakan untuk berteduh. Ketika orang-orang musyrikin diazab, mereka merasakan panas api yang sangat panas, maka mereka ingin ada naungan untuk mengurangi rasa panas yang mereka rasakan. Ketika itu maka Allah Subhanahu wa taโala memerintahkan mereka untuk menuju suatu naungan, akan tetapi bukan naungan yang menyenangkan atau mendinginkan mereka, namun naungan yang sangat mengerikan. Mereka berkeinginan mendapatkan naungan, akan tetapi yang Allah Subhanahu wa taโala berikan kepada mereka naungan yang panas yang mampu membakar mereka [45]. Para ulama mengatakan bahwa karena saking panasnya neraka Jahannam, maka api neraka mengeluarkan asap yang sangat tebal sampai dikira sebagai ุธูููู naungan. Asap tersebut dinamakan ุงูุณููุฑูุงุฏููู surodiq dengan lalu asap tersebut naik menjadi ุธูููู naungan dan terpecah menjadi 3 cabang[46]. Dan Allah azza wa jalla menambah siksaan mereka dengan beberapa hal Allah azza wa jalla ejek dan hinakan mereka dengan menyebutkan asap yang tebal lagi sangat panas dengan naungan, yang mana pada hari itu mereka benar-benar mengharapkan naungan untuk meringankan rasa sakit mereka. Sebagai pendekatan makna seseorang yang sangat haus dan membutuhkan minum, dan ternyata orang yang melihatnya mengatakan kepadanya ini silahkan diminum, dan ketika ia hendak meminumnya, ternyata yang ia berikan adalah bejana yang tidak ada airnya, maka sakit hati itu akan benar terasa. Allah azza wa jalla kumpulkan mereka pada satu naungan asap Allah azza wa jalla sebut zhill dengan mufrod/kata tunggal sehingga bertambahlah adzab mereka karena mereka berdesak-desakkan di sana, dan rasa sakit itu akan bertambah dengan berdesak-desakannya mereka di sana. [47] Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุฅููููููุง ุชูุฑูู
ูู ุจูุดูุฑูุฑู ููุงููููุตูุฑูุ ููุฃูููููู ุฌูู
ูุงููุชู ุตูููุฑูุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โSungguh, neraka itu menyemburkan percikan api sebesar dan setinggi istana, seakan-akan iring-iringan unta yang kekuningan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 32-34 firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฅููููููุง ุชูุฑูู
ูู ุจูุดูุฑูุฑู ููุงููููุตูุฑู โSungguh, neraka itu menyemburkan percikan api sebesar dan setinggi istana.โ Ayat ini menerangkan betapa dahsyatnya api neraka tersebut. Sampai-sampai percikannya saja bisa sebesar dan setinggi istana. Kemudian firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุฃูููููู ุฌูู
ูุงููุชู ุตูููุฑูุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โSeakan-akan iring-iringan unta yang kekuningan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ Di antara salah satu pendapat, dahulu orang-orang Arab menamakan ุฌูู
ูุงููุชู ุตูููุฑู kepada ุงูุฅูุจููู ุงูุฃูุณูููุฏู unta-unta hitam [48], hanya saja warna hitamnya kekuning-kuningan. Akan tetapi maksudnya adalah warnanya hitam. Dari sini para ulama mengatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwasanya api neraka Jahannam bukan merah, akan tetapi berwarna hitam karena saking panasnya. Firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุฐูุง ููููู
ู ููุง ููููุทููููููุ ููููุง ููุคูุฐููู ููููู
ู ููููุนูุชูุฐูุฑููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โInilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 35-37 Pada hari kiamat kelak terdapat beberapa tahapan yang akan dilalui oleh manusia. Dan kelak ada tahapan di mana orang-orang kafir bisa berbicara mengeluarkan hujjah mereka. Akan tetapi ada tahapan di mana mereka tidak bisa lagi berbicara karena uzur mereka tidak akan diterima. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ุงููููููู
ู ููุฎูุชูู
ู ุนูููู ุฃูููููุงููููู
ู ููุชููููููู
ูููุง ุฃูููุฏููููู
ู ููุชูุดูููุฏู ุฃูุฑูุฌูููููู
ู ุจูู
ูุง ููุงูููุง ููููุณูุจูููู โPada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.โ QS. Yasin 65 ููููุงูููุง ููุฌููููุฏูููู
ู ููู
ู ุดูููุฏูุชูู
ู ุนูููููููุง ููุงูููุง ุฃูููุทูููููุง ุงูููููู ุงูููุฐูู ุฃูููุทููู ููููู ุดูููุกู ูููููู ุฎูููููููู
ู ุฃูููููู ู
ูุฑููุฉู ููุฅููููููู ุชูุฑูุฌูุนูููู โDan mereka berkata kepada kulit mereka, Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?โ Kulit mereka men-jawab, Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang juga menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikanโ.โ QS. Fushshilat 21 Dan Allah Subhanahu wa taโala juga berfirman, ููููู
ูุฆูุฐู ููุชููุจูุนูููู ุงูุฏููุงุนููู ููุง ุนูููุฌู ูููู ููุฎูุดูุนูุชู ุงููุฃูุตูููุงุชู ูููุฑููุญูู
ููู ููููุง ุชูุณูู
ูุนู ุฅููููุง ููู
ูุณูุง โPada hari itu mereka mengikuti panggilan penyeru malaikat tanpa berbelok-belok membantah; dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik.โ QS. Thaha 108 Maka di akhirat kelak ada berbagai fase. Ada fase di mana mereka bersuara keras, ada fase mereka hanya berbisik-bisik karena ketakuatan, dan ada fase di mana mereka tidak dapat lagi berbicara sebagaimana dijelaskan oleh ayat ini. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฐูุง ููููู
ู ุงููููุตููู ุฌูู
ูุนูููุงููู
ู ููุงููุฃูููููููููุ ููุฅููู ููุงูู ููููู
ู ููููุฏู ูููููุฏููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โInilah hari keputusan; pada hari ini Kami kumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Maka jika kamu punya tipu daya, maka lakukanlah tipu daya itu terhadap-Ku. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 38-40 Sebagian para ulama menyebutkan bahwa ayat ini merupakan azab nafsani [49], yaitu azab yang menyakitkan hati penghuni neraka. Karena di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa taโala memberikan penghinaan dan ejekan kepada mereka dengan menantang mereka untuk membuat makar kepada Allah Subhanahu wa taโala, sebagaimana di dunia mereka sering berbuat makar kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan dalam ayat ini seakan-akan Allah Subhanahu wa taโala mengatakan โJika kalian bisa membebaskan diri kalian, maka silahkan lakukanโ. Maka selain jasad mereka juga di azab oleh Allah Subhanahu wa taโala, jiwa mereka pun di siksa oleh Allah Subhanahu wa taโala. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ุฅูููู ุงููู
ูุชููููููู ููู ุธูููุงูู ููุนููููููุ ููููููุงูููู ู
ูู
ููุง ููุดูุชููููููุ ูููููุง ููุงุดูุฑูุจููุง ูููููุฆูุง ุจูู
ูุง ููููุชูู
ู ุชูุนูู
ููููููุ ุฅููููุง ููุฐููููู ููุฌูุฒูู ุงููู
ูุญูุณููููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โSungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan pepohonan surga yang teduh dan di sekitar mata air, dan buah-buahan yang mereka sukai. Dikatakan kepada mereka, Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakanโ. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 41-45 Setelah Allah Subhanahu wa taโala menyebutkan tentang penghuhi neraka, Allah Subhanahu wa taโala kemudian menyebutkan tentang penghuni surga. Firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฅูููู ุงููู
ูุชููููููู ููู ุธูููุงูู ููุนููููููุ ููููููุงูููู ู
ูู
ููุง ููุดูุชูููููู โSungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan pepohonan surga yang teduh dan di sekitar mata air, dan buah-buahan yang mereka sukai.โ Kalau naungan orang-orang kafir adalah asap yang sangat panas, maka naungan orang-orang bertakwa adalah pohon-pohon yang rindang bersama keluarga mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taโala, ุฅูููู ุฃูุตูุญูุงุจู ุงููุฌููููุฉู ุงููููููู
ู ููู ุดูุบููู ููุงูููููููุ ููู
ู ููุฃูุฒูููุงุฌูููู
ู ููู ุธูููุงูู ุนูููู ุงููุฃูุฑูุงุฆููู ู
ูุชููููุฆูููู โSesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka. Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.โ QS. Yasin 55-56 Dan sebagian para ulama menafsirkan bahwa kesibukan penghuni surga adalah berhubungan dengan istri mereka [50]. Dan ุงููุฃูุฑูุงุฆููู maknanya adalah tempat tidur yang telah dihiasi, dan disitulah para penghuni surga memiliki kesibukan dengan istri-istri mereka. Sementara orang-orang kafir sibuk dengan asap panas di sisi-sisi mereka. Kemudian firman Allah Subhanahu wa taโala, ููููููุงูููู ู
ูู
ููุง ููุดูุชูููููู โDan buah-buahan yang mereka sukai.โ Buah apapun yang diinginkan oleh penghuni surga, maka buah tersebut langsung hadir di hadapan mereka. Dan buah-buah di surga tidak mengenal musim. Buah-buah di surga juga tidak perlu dipanjat, hanya tinggal memetik, karena Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุทููููููุง ุฏูุงููููุฉู โBuah-buahannya dekat.โ QS. Al-Haqqah 23 Buah-buah apapun ada dan bisa diambil dengan mudah karena di surga tidak ada kesusahan. Kemudian Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ูููููุง ููุงุดูุฑูุจููุง ูููููุฆูุง ุจูู
ูุง ููููุชูู
ู ุชูุนูู
ููููููุ ุฅููููุง ููุฐููููู ููุฌูุฒูู ุงููู
ูุญูุณููููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โDikatakan kepada mereka, โMakan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.โ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ Ayat ini merupakan dalil bahwa tidak mungkin seseorang masuk surga kecuali dengan melakukan sebab. Dan di antara sebab seseorang masuk surga adalah beramal saleh [51]. Allah Subhanahu wa taโala itu Maha Adil, Dia akan memberikan balasan sesuai kadar amalan seseorang. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููููููููู ุฏูุฑูุฌูุงุชู ู
ูู
ููุง ุนูู
ููููุง ููู
ูุง ุฑูุจูููู ุจูุบูุงูููู ุนูู
ููุง ููุนูู
ูููููู โDan masing-masing orang ada tingkatannya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.โ QS. Al-Anโam 132 Maka janganlah kita malas dalam beramal saleh, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa taโala tidak akan menyamakan di antara kita. Sungguh berbeda balasan bagi orang yang sedekahnya banyak dan orang yang sedekahnya sedikit. Akan berbeda balasan bagi orang yang baca Alqurannya banyak dan orang yang baca Alqurannya sedikit. Oleh karenanya kita akan dimasukkan Allah Subhanahu wa taโala dengan rahmat-Nya, akan tetapi dengan sebab amal saleh itulah yang dijadikan Allah Subhanahu wa taโala barometer untuk membedakan hamba-Nya di akhirat kelak. Dan firman Allah azza wa jalla โSungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baikโ untuk menambah rasa bahagia dalam hati orang-orang yang beriman, yang mana ini semua adalah bentuk penghargaan atas usaha mereka. Tentu seseorang apabila diberi sesuatu dan diungkit-ungkit kebaikannya pasti akan merasa bangga dan bahagia. [52] Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ูููููุง ููุชูู
ูุชููุนููุง ูููููููุง ุฅููููููู
ู ู
ูุฌูุฑูู
ูููู 46 ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โDikatakan kepada orang-orang kafir, Makan dan bersenang-senanglah kamu di dunia sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhakaโ. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ QS. Al-Mursalat 46-47 Allah Subhanahu wa taโala mengingatkan bahwa umur seseorang di dunia itu sebentar. Paling panjang umur seseorang hanya sampai 80 hingga 100, itupun sudah jarang. Setelah itu yang ada hanyalah kematian. Kalaupun umur hingga sedemikian panjangnya, apa yang bisa dinikmati dengan kondisi yang sudah tua, lemah, rabun, dan dengan penyakit orang tua lainnya? Maka Allah Subhanahu wa taโala mempersilahkan kepada orang-orang kafir untuk bersenang-senang di dunia, hanya saja hal itu mereka akan nikmati sebentar saja. Dan perintah disini digunakan untuk peringatan kepada mereka bahwa apa yang mereka makan di dunia ini hanyalah sedikit dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tempat kembali mereka kelak yaitu berupa adzab yang abadi [53]. Allah Subhanahu wa taโala berfirman, ููุฅูุฐูุง ููููู ููููู
ู ุงุฑูููุนููุง ููุง ููุฑูููุนููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจููููุ ููุจูุฃูููู ุญูุฏููุซู ุจูุนูุฏููู ููุคูู
ูููููู โDan apabila dikatakan kepada mereka, โRukuklah,โ mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran. Maka kepada ajaran manakah selain Al-Qurโan ini mereka akan beriman?โ QS. Al-Mursalat 48-50 Sebagaimana telah disebutkan di awal pembahasan, makna firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุฅูุฐูุง ููููู ููููู
ู ุงุฑูููุนููุง ููุง ููุฑูููุนููููุ ูููููู ููููู
ูุฆูุฐู ููููู
ูููุฐููุจูููู โDan apabila dikatakan kepada mereka, Rukuklahโ, mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.โ Maksudnya adalah ketika mereka diperintahkan beriman, mereka enggan untuk beriman [54]. Karena untuk rukuk pun seseorang harus beriman terlebih dahulu. Kemudian firman Allah Subhanahu wa taโala, ููุจูุฃูููู ุญูุฏููุซู ุจูุนูุฏููู ููุคูู
ูููููู โMaka kepada ajaran manakah selain Al-Qurโan ini mereka akan beriman?โ Jika Alquran telah begitu tegas kepada mereka serta dalil untuk mereka juga banyak, namun mereka tidak mau beriman, maka ajaran manakah yang akan mereka imani selain Alquran? [55] _____________________________________________________________________________ [1] Lihat At-Tahrir Wat Tanwir 29/418 [2] Lihat At-Tahrir Wat Tanwir 29/418 [3] Lihat At-Tahrir Wat Tanwir 29/417 [4] Malam Al-Jin adalah malam di mana suatu hari para sahabat kehilangan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ternyata pada malam itu Nabi shallallahu alaihi wasallam didatangi oleh sekelompok Jin meminta Nabi shallallahu alaihi wasallam berdakwah kepada kaum Jin. Maka pada malam itu para sahabat kehilangan Nabi shallallahu alaihi wasallam karena pergi mendakwahi para Jin. Maka malam perginya Nabi shallallahu alaihi wasallam dikenal dengan Malam Al-Jin Lailatul Jin. Lihat HR Muslim no 450 [5] Tafsir Al-Qurthubi 19/153 [6] Surah-surah pendek dari surah Ad-Dhuha hingga surah An-Naas [7] Surah-surah yang sedang, dimulai dari surah An-Nabaโ hingga surah Al-Lail. [8] Tafsir Ath-Thabari 19/153 [9] Tafsir Ruh Al Maโani, Al Alusi, 15/187, Al Maroghi, 29/178 [10] Lihat At-Tafsir Al-Kabir 30/765 [11] Lihat Ad-Durrul Mantsur Fit Tafsir bil Maโtsur 8/382, dan dijelaskan ini adalah penafsiran Mujahid bin Jabir. [12] Lihat At-Tahrir wat Tanwir 29/420 [13] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/154 [14] Lihat Tafsir Ath-Thobari 23/587 [15] Lihat Tafsir Ath-Thobari 23/587 [16] Lihat At-Tahrir wat Tanwir 29/422 [17] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/156 [18] Lihat At-Tafsri Al-Kabir 30/765-766 [19] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/156 [20] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/157 [21] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/157 [22] Lihat At-Tahrir wat Tanwir 29/425 [23] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/157 [24] Attahrir Wa Attanwir, 29/422 [25] Tafsir Ruh Al Maโani, Al Alusi, 15/192. [26] Al-Mathalib Al-Aliyah no. 4539 18/492, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan sanad hadits ini Shahih Muttashil [27] Lihat Tafsir Attahrir Wa Attanwir, 29/426 [28] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/158 [29] Lihat Fathul Qadir 5/431 [30] Lihat Tafsir As-Saโdi hal. 904 [31] Kisah Nabi Shaleh dan Nabi Hud alaihimassalam diketahui oleh orang-orang musyrikin karena keduanya adalah Nabi dari Jazirah Arab, sehingga daerah yang berdekatan membuat mereka tahu kisah tersebut. Adapun kisah Firโaun dan Nabi Nuh alaihissalam merupakan kisah yang mahsyur di tengah-tengah mereka. [32] Lihat Fathul Qadir 5/432 [33] Proses implantasi adalah proses embrio sel telur yang telah dibuahi menanamkan diri pada dinding rahim untuk berkembang. [34] At-Tahrir Wa At-Tanwir, 29/430 [35] At-Tahrir Wa At-Tanwir, 29/431 [36] Lihat At-Tahrir wat Tanwir 29/431 [37] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/160 [38] Al Maroghi, 29/183. [39] HR. Bukhari no. 812 dan HR. Muslim no. 490 [40] Lihat Fathul Bari 2/296 [41] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/161 [42] Hal-hal yang darurat contohnya adalah seseorang tidak bisa dikuburkan karena untuk pergi ke tempat meninggalnya bisa mengakibatkan orang juga meninggal. Atau seseorang tidak bisa dikuburkan karena ditempat meninggalnya terserang wabah yang jika salah seorang pergi ke sana maka dia juga akan terkena wabah dan meninggal dunia. [43] At-Tahrir Wa At-Tanwir, 29/433 [44] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/162 [45] Lihat Tafsir As-Saโdy hal. 904, dan beliau mengatakan bahwa bayangan ini adalah bayangan neraka Jahannam [46] Sebagaimana yang dikatakan oleh Qotadah Lihat Tafsir At-Thobari 23/600 [47] Attahrir Wa Attanwir, 29/435 [48] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/164 [49] Lihat Attahrir Wa Attanwir, 29/442 [50] Lihat Tafsir Ath-Thobari 19/460 [51] Lihat Fathul Qadir 5/435 [52] Attahrir Wa Attanwir, 29/444 [53] Lihat Attahrir Wa Attanwir, 29/445 [54] Lihat Attahrir Wa Attanwir, 29/447 [55] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/169
INTRODUCTION Al-Quran was revealed by God through the intermediary of an angel Jibril to the Prophet Muhammad to be a role model and a way of life for all mankind, giving way bright and straight so that people do not fall for the temptations and distractions satan who always invites people to follow their passions and do immoral order sent to hell along with them in the hereafter. Al-Quran is a guide to mankind that contains the basics of faith in God and the teachings of other Islamic, recounted the events of the past in order to take a lesson and tell the events that will occur in the future so that people could be preparing themselves to deal with it. Therefore, most of the contents of the Koran was revealed to goals like that, but continue readingโฆ the public and the sahabat who lived in the time of Prophet Muhammad experiencing events that require explanation and answers to all the problems that occur, whether it is social conflict, questions companions to the Prophet about the laws and phenomena, as well as other events which led to the revelation to the Prophet. Explanations and answers are the causes of the revelation of the verse by verse called asbab al-nuzul. In this paper will explain what is meant by asbab al-nuzul, asbab al-nuzul types and benefits of studying asbab al-nuzul. DISCUSSION Defenition of โAsbabun Nuzulโ In every state there must be reasons that become the background of something happening, even though all of the phenomena underlying the occurrence of something can be called asbab al-nuzul, but in its use asbab al-nuzul special expression used to describe the causes of the background for the decline in the Qurโan. The term asbab al-nuzul can be interpreted as the causes that accompany the revelation of the verses of the Koran to the Prophet Muhammad because there was an event that requires clarification or questions that need answers both about around the law, the state of the environment where people live, as well as questions and deed conducted by the friends and the people who need the permanence and certainty. Kinds of Asbabun Nuzul Asbab al-nuzul is the causes underlying the decline in verse to the Prophet Muhammad, in certain cases there are some kinds of underlying reasons for the decline in verse or revelation to the Prophet, among them there are some events that cause a decline in one verse, one verse for some events and more Some Revelation for One Asbab Sometimes many verses down while the cause is just one event. An example is the question of a person to the Prophet Muhammad about the mention of the word โwomanโ in the Quran, the verse came in surah Ali Imran verse 195, Surah Al-Ahzab verse 35 and Surah An-Nisa verse 32 is the verses revealed with regard to one the cause. The verses read โAnd their Lord allow the petition by saying I am not wasting charitable people who labor among you, whether male or female because most of you are descendants of othersโฆโAli-Imran verse 195 โSurely men and women who are Muslims, men and women who are believers [in 1218], men and women who remain in devotion, men and women are true, men and women who are patient, male and women who are humble, men and women who give alms, both men and women who fast, men and women who maintain the honor, men and women who many call name of Allah, Allah has prepared for them forgiveness and great reward โAl-Ahzab 35 โAnd do not covet what God has given to some of you more than others. Because for men there is a portion of what they earn, and to women also there is a portion of what they have earned, and ask Allah of His bounty portion. Indeed, Allah is Knowing of all things โAn-Nisa 32 Some Asbab for One Person 1. For Prophet Muhammad Sometimes the Koran was revealed due to a strike of Allah to the Prophet Muhammad in both the household relationships and social interaction as well as in the delivery of propaganda. There are five reasons verses was revealed about the Prophet. First, when the Prophet forbids honey on him because wants to please his wife. Then Allah revealed the verse โO Prophet, why do you forbid that which Allah has made lawful for you; you are looking for joy at your wives? And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful โAt-Tahrim 1. Second, the Prophet Muhammad was very sad when his uncle Abu Talib died and he wanted to pray that God will forgive the sins of his uncle. Then Allah revealed โnot for the Prophet and those who believe ask for forgiveness to Allah for the idolaters even though the polytheists it is of kin her, after obvious to them that the idolaters are the dwellers of hell.โAt-Tauba 113 The third thing is the cause of the revelation of the verse as a warning to the Prophet Muhammad was when he wanted to preach to the Quraysh officials, along with it came a blind man named Abdullah bin Umm Maktum came he wanted to ask for clarification on propaganda. But the Prophet ignored him and kept up to magnifying the Quraish. Then the verse came down rebuking the Prophet is surah Abasa. Fourth, one day the Prophet Muhammad was asked by several people of Quraish about something, then the Prophet replied by saying โI will answer any questions you tomorrowโ while waiting for the revelation to answer these questions. But the revelation does not go down until a few days and when the revelation come down, God rebuked the Prophet โAnd do not you ever say about anything, I shall be doing this in the morning, except calling; โGod Willingโ Al-Kahf 23-24. And the fifth is when the Prophet Muhammad received revelations but he became very confused if it will be forgotten one paragraph or letter of the Koran. Therefore, when Gabriel delivered the revelation, the Prophet immediately repeat the word-by-word to memorize it quickly. This act has been rebuked by God through โDo not move your tongue to read the Qurโan that want to master it quicklyโ Surah Al-Qiyamah 16 2. For Saad bin Abi Waqqas This relates to some of the events that occurred on one of the companions of the Prophet named Saโad bin Abi Waqqas. The first incident was when Saโad bin Abi Waqqas converted to Islam, his mother did not agree, and vowed that he would not eat and drink if Saโad did not leave Islam. Then the verse came down with regard to the incident that surah Luqman verse 15 โAnd if they force you to associate with Me something you have no knowledge about it, then do not follow them, and keep both of them in the world with the good, and follow the path of the returning to me, and then only to me is your return, then I am proclaiming to you what you did โ. The second event was when Saโad bin Abi Waqqas took a sword and admired it, then he said to the Prophet O Messenger of Allah, give me this sword. Then the verse came down. โThey ask you about division spoils of war. Say โThe spoils of war belong to Allah and the Messenger [593], therefore, fear Allah and reform the relationship between neighbor; and obey Allah and His Messenger, if ye are believers.โ Al-Anfal1. The purpose belong to Allah and the Messenger in the paragraph above is the division of the spoils, according to the provisions of Allah and the Messenger. The third Event happened to Saad bin Abi Waqqas causing a decline paragraph was when he was ill and the Prophet came to see him and then he asked the Prophet โMessenger of Allah, I want to share my property, can I bequeath half?โ He replied, โNo.โ Then he asked again, โHow about a third?โ he was silent. So will the third was allowed. This is in accordance with the paragraph that down is โprescribed for you, if anyone among you arrival signs death, if he left much treasure, intestateโs mother father and a close relative of his in kindness, this is an obligation on the -people who fear Allah โAl-Baqarah 180 The fourth event was when he was drinking liquor khamr along the Helpers Anshar, one of them hit her nose with a camel jawbone. Then he came to the Prophet,then Allah revealed the prohibition of drinking wine. โO ye who believe, in fact drinking alcohol, gambling, sacrifice to idols, gambled with the fate of the arrow, is included acts of satan. So stay away from the deeds so that you get the prosper โ. Al-Maidah 90. Asbabun Nuzul for The Prohibiton Gradually The third type of asbab al-nuzul verse is the decline gradually on the prohibition of something. At least two prohibitions in Islam that provision on the prohibition of the lowered gradually, namely the prohibition on usury and wine. 1. Asbabun Nuzul about Usury Riba The prohibition on usury contained in the Qurโan not sent down all at once, but lowered in four stages. The first stage, rejected the notion that usurious loans on its Zahir as if help for people who need an act to draw closer to God. โAnd a usury extra you gave him to add the human treasures, then usury does not add on the side of God. And what you give in the form of zakat you mean to achieve the pleasure of Allah, then who did so that people who multiply reward โar-Rum 39. The second phase, flashbacks about the prohibition of usury for the pre-Islamic people and a threat to those who remain do so. God threatens harsh will threaten hardly to the person who devour usury. โThus, due to the injustice of the Jews, We forbade them eating food was good the former lawful for them, and because of their much hinder men from the Path of Allah, and because of their taking usury when in fact they had been forbidden from it, and because they took peopleโs wealth by way of vanity. We have prepared for the disbelievers among them a painful doom. โAn-Nisa 160-161 The third stage, usury is forbidden by linking it to an additional double. Commentators argue that the taking of interest with a fairly high level is a phenomenon that is widely practiced in the moment. Allah said โO ye who believe, do not take usury doubled and fear Allah and so that you may be prosper. โAli-Imran 130 The last stage of the prohibition of usury derived gradually verse is God clearly and expressly forbid any additional type of loan taken. This is the final verse was revealed concerning usury.โO ye who believe, fear Allah and give up what remains of usury which is not collected if you are believers. So, if you do not do leave rest os usury, then know that Allah and His Messenger will fight you. And, if you repent from taking usury, then you staple your treasure; You do not persecute nor persecuted.โ Al-Baqarah 278-279 2. Asbabun Nuzul about Khamar. Prohibition of drinking wine khamr, lowered gradually. Because drinking wine for the Arabs it was customary ingrained since the time of ignorance. Initially said that itโs sin is more than the benefits, then people who are drunk should not offer prayers, and the last said that drinking wine was vile and included acts of satan. Therefore is should let those who believe quit drinking wine. As for the word of God first down on khamr is โThey ask you about khamr and gambling. Say โIn both is great sin, and some benefits for men, but the sin is greater than the benefit of bothโ. And they ask thee what they shall spend. Say, โThat is more than necessaryโ. Thus Allah explains His verses to you in order that you think.โ [QS. Al-Baqarah 219] It is explained because the decline in the verse is when the Prophet came to Medina, he saw people drinking wine and gambling, it has become their habit since their ancestors. Then the companions asked the Prophet about the laws, and the verse came down. They understood from the verse that drinking wine and gambling was not prohibited, but only to say that in both there is great sin, so they are still drinking wine. When the prayer time is come, then one becomes a priest, and in the prayer reading much wrong, because he was drunk after drinking wine. Then the word of God came down harder than ever, namelyโO ye who believe, do not approach prayer while you are drunk, so that you understand what you say.โ [An-Nisa 43] Then people are still drinking wine, because they think that only in prayer should not be drunk so they offer prayers when they are aware of a drunk. Then the verse was revealed that stricter than the preceding verse โO ye who believe, in fact drinking khamr, gambling, sacrifice to idols, gambled with the fate of the arrow, is the act of indecency including syaithan. So stay away from the deeds that ye may prosper. Indeed, syaithan wish cause enmity and hatred among you because of drinking the khamr and gambling, and hinder you from the remembrance of God and prayer, then stop you from doing the deed. โ[QS. Al-Maidah 90-91] From the verses above, it is clear that Allah and His Messenger have forbidden wine of the strict prohibition although initially only be said that more harm than good. Thus, God gives explanations gradually so that people can accept and not jolted by sudden prohibition. Asbabun to Response for an Event Among the causes of the revelation of the Quran is the response and the response of an event that occurred at the time of Prophet Muhammad, at least two events a response and the response of the Koran to the events that befall Aisyah and Abu Lahab. The first event befall wife of the Prophet Muhammad, namely Siti Aisyah. This event was Siti Aisyah slandered having an affair with one of the companions. This happens when she was on a journey with the Prophet and his companions. The Prophet and his companions stopped to unwind, Aisyah down on a stretcher because he wanted to do something, but this group went back and did not realize Aisyah has not returned to the stretcher, so that Aisha had left behind at a rest area. After a while there was a friend who was located far behind the group also stopped at the same rest area and found Aisyah was there alone, then he allowed Aisyah climbed to the top of the camel while he walked alongside the camel. Once they were in the group, they are immediately accused of infidelity. Then the verse came to respond and provide an answer to these events, namely โIndeed, those who brought forward the lie are a body among you as well. Dont you think that false news is bad for you even it is good for you โฆ.. โtil the end of the verse. An-Nur11-22 4. The benefits of study Asbabun Nuzul In studying something there is a lesson that can be taken. Likewise with this study of asbab al-nuzul, there are some benefits that can be as lessons, they are to understand the hidden meaning in a verse, one way to interpret the Al-Quran, explaining about what and who a verse was revealed and knowing grooves or stages revealed law. CLOSING Conclusion Asbab al-nuzul can be stated as the causes that accompany the revelation of the verses of the Koran to the Prophet Muhammad because there was an event that requires clarification or questions that need answers both about around the law, the state of the environment where people live, as well as questions and deed conducted by the friends and the people who need the permanence and certainty. There are some kinds of underlying reasons for the decline in verse or revelation to the Prophet, among them there are some events that cause a decline in one verse, one verse for some events and more. Furthermore, kinds of asbabun nuzul are Some Revelation for One Asbab, Some Asbab for One Person, Asbabun Nuzul for The Prohibiton Gradually and Asbabun to Response for an Event In learning asbabun nuzul, there are some lessons can be taken, they are to understand the hidden meaning in a verse, one way to interpret the Al-Quran, explaining about what and who a verse was revealed and knowing grooves or stages revealed law and so on. Suggestion Nothing is perfect in this world because perfection belongs to Allah, as well as the discussion in this paper, there are still many shortcomings in terms of both language and content. Therefore, criticism and advice necessary for the future development of this paper. Beside that, it is expected for the reader to search and read other literature so that the understanding of this asbab al-nuzul is more comprehensive. BIBLIOGRAPHY As-Suyuti, Jalaludin Al Imam. Riwayat Turunnya Ayat-ayat Suci Al-Quraโan. SurabayaMutiara Denfer, Ahmad Von. Ulum Al-quran an Intoduction to the sciences of the Quran. Kahar Masyur. Pokok-pokok Ulumul Quran. PT Rineka Cipta.
asbabun nuzul surat al mursalat